// Arsip Digital Sejarah Indonesia

Pergerakan
Nasional

1908 1942

Dari kebangkitan Boedi Oetomo hingga gelora Sumpah Pemuda — sebuah masa ketika bangsa menemukan jati dirinya dan menapaki jalan menuju kemerdekaan.

13 Bab 16 Peristiwa 15 Tokoh 12 Organisasi 5 Aliran Galeri 3D Glosarium
Gulir untuk menjelajah
BAB 01 // ERA PENDERITAAN

Bibit Kebangkitan

Sebelum pergerakan lahir, ada penderitaan panjang yang menggembosi rakyat Nusantara selama berabad-abad di bawah kolonialisme Belanda.

Awal abad ke-20 menjadi titik balik penting dalam sejarah Indonesia. Setelah berabad-abad dikuasai kolonial Belanda, kesadaran nasional mulai tumbuh di kalangan kaum terpelajar pribumi. Lahirnya organisasi-organisasi pergerakan menandai masuknya Indonesia ke dalam babak modern politik nasional.

Pergerakan nasional tidak muncul tiba-tiba. Ia adalah buah dari penderitaan yang panjang akibat sistem tanam paksa, lahirnya golongan cendekiawan melalui Politik Etis, serta pengaruh ide-ide modern dari luar yang menyentuh hati kaum muda Indonesia.

"Seandainya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta kemerdekaan di tanah bangsa yang telah dirampas kemerdekaannya."

// SOEWARDI SURYANINGRAT, 1913

1830
Mulai Tanam Paksa
1870
Akhir Tanam Paksa
40
Tahun Penderitaan
ƒ 823M
Keuntungan Belanda

Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) 1830–1870

Aturan Dasar

  • Diperkenalkan oleh Van den Bosch (1830)
  • 20% tanah desa wajib ditanam tanaman ekspor
  • Hasil diserahkan ke pemerintah kolonial
  • Petani tidak dibayar, justru dipajak
  • Tanah pertanian pangan terbengkalai

Dampak bagi Rakyat

  • Kelaparan massal di Cirebon (1840-an)
  • Wabah penyakit dan kematian besar-besaran
  • Penduduk Demak berkurang drastis
  • Petani terpaksa makan umbi dan akar
  • Ikut kerja rodi (kerja paksa)

Keuntungan Belanda

  • Keuntungan ƒ 823 juta (1831–1877)
  • Membiayai revolusi industri Belanda
  • Membiayai kereta api dan kanal
  • Membangun kota-kota di Belanda
  • Nederland memperoleh "Zalige Achttiende Eeuw"

Era Liberal (1870–1901)

Setelah Tanam Paksa dihapuskan, masuklah Era Liberal dengan Undang-Undang Agraria (1870) dan Undang-Undang Gula (1870). Tanah disewakan kepada pengusaha swasta untuk perkebunan besar. Kaum liberal Belanda menuntut perbaikan nasib pribumi, melahirkan Politik Etis pada 1901 di bawah Ratu Wilhelmina — program edukasi, irigasi, dan transmigrasi yang justru melahirkan golongan terpelajar pribumi, calon pemimpin pergerakan nasional.

BAB 02 // FAKTOR PENDORONG

Faktor Pendorong

Lahirnya pergerakan nasional didorong oleh faktor internal yang dipupuk penderitaan, dan faktor eksternal yang meniupkan angin perubahan dari luar.

Faktor Internal

  • Penderitaan rakyat akibat sistem tanam paksa (1830–1870)
  • Munculnya golongan cendekiawan pribumi lulusan sekolah Belanda
  • Kekecewaan terhadap Politik Etis yang tidak memenuhi harapan
  • Tradisi perlawanan daerah (Diponegoro, Imam Bonjol, Sisingamangaraja) yang menginspirasi semangat
  • Kemunduran ekonomi rakyat akibat ekonomi dualistik kolonial
  • Munculnya golongan buruh dan pedagang pribumi yang tertindas

Faktor Eksternal

  • Kemenangan Jepang atas Rusia (1905) — bangsa Asia bisa mengalahkan Eropa
  • Revolusi Nasional Tiongkok (1911) di bawah Dr. Sun Yat Sen
  • Kebangkitan nasional India (Gandhi) dan Filipina (Rizal)
  • Paham nasionalisme, demokrasi, sosialisme, dan komunisme dari Eropa
  • Perang Dunia I (1914–1918) yang melemahkan negara-negara imperialis
  • Revolusi Bolshevik Rusia (1917) yang menginspirasi komunisme Asia

Politik Etis (1901) — Kebijakan yang Berbalik

Kebijakan kolonial Belanda yang diusulkan oleh C.Th. van Deventer et Pieter Brooshooft, didasarkan pada tiga program: Edukasi (pendidikan), Irigasi (pengairan), et Transmigrasi (perpindahan penduduk). Tujuannya untuk membalas budi atas keuntungan tanam paksa. Namun pada kenyataannya, justru melahirkan golongan terpelajar pribumi yang akhirnya menjadi motor pergerakan nasional. Sekolah-sekolah seperti STIA, HBS, OSVIA, et MULO menghasilkan dokter, insinyur, et pegawai yang sadar akan penindasan bangsanya.

Linimasa Pergerakan

Tiga puluh empat tahun perjalanan — dari kelahiran Boedi Oetomo hingga pergantian kekuasaan kolonial yang membuka jalan bagi proklamasi kemerdekaan.

20 MEI 1908

Boedi Oetomo

Organisasi pergerakan nasional pertama, didirikan oleh Dr. Soetomo et kawan-kawan di Jakarta. Bersifat kultural, pendidikan, et Jawa-sentris. Hari ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Kultural
1908

Kartini Meninggal

R.A. Kartini wafat dalam usia 25 tahun. Surat-suratnya yang dikumpulkan dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang" menjadi inspirasi emansipasi wanita Indonesia.

Emansipasi
1911

Sarekat Dagang Islam

Haji Samanhudi mendirikan perkumpulan dagang untuk melindungi pedagang batik pribumi dari persaingan pedagang Tionghoa. Cikal bakal Sarekat Islam.

Ekonomi
1912

Sarekat Islam & Muhammadiyah

H.O.S. Tjokroaminoto mengubah Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam — organisasi massa pertama. Di Yogyakarta, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah untuk pembaruan Islam et pendidikan.

Agama
1912 — 1913

Indische Partij

Partai politik pertama yang menuntut kemerdekaan. Didirikan oleh Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, et Dr. Cipto Mangunkusumo. Dibubarkan Belanda setelah tulisan "Als ik eens Nederlander was".

Politik
1913

Indische Vereeniging

Organisasi mahasiswa Hindia di Belanda. Nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1922 — pelopor nasionalisme eksterritorial.

Eksterritorial
1914

ISDV

Indische Sociaal-Democratische Vereeniging didirikan oleh Henk Sneevliet di Semarang. Membawa paham Marxisme ke Hindia Belanda. Cikal bakal PKI.

Sosialis
1917

Revolusi Bolshevik

Revolusi di Rusia menginspirasi gerakan kiri di Asia, termasuk Indonesia. Komintern aktif menyebarkan paham komunisme ke Hindia Belanda.

Internasional
23 MEI 1920

Berdirinya PKI

Perserikatan Kommunist di India, partai komunis pertama di Asia. Kelahiran dari ISDV dengan Semaun sebagai ketua pertama. Menandai munculnya aliran kiri dalam pergerakan.

Politik
1922

Perhimpunan Indonesia & Taman Siswa

PI di Belanda dipimpin Hatta, menjadi pelopor nasionalisme radikal. Di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa — sistem pendidikan nasional pertama.

Pendidikan
1923

Pemogokan Besar

Pemogokan buruh kereta api oleh PKI menunjukkan kekuatan gerakan kelas. Ini menandai peralihan pergerakan dari kultural ke politik radikal.

Buruh
1926 — 1927

Pemberontakan PKI

Pemberontakan di Banten, Batavia, et Sumatera Barat yang gagal. Akibatnya PKI dibubarkan et tokoh-tokohnya dibuang ke Boven Digoel. Pergerakan nasional sempat melemah.

Konflik
4 JULI 1927

Berdirinya PNI

Perserikatan Nasional Indonesia didirikan oleh Sukarno bersama para pemuda. Bersifat nasionalis, non-kooperatif, et menuntut kemerdekaan penuh. Marhaenisme menjadi asasnya.

Politik
1928

PPPKI

Permoefakatan Perhimpoenan2 Politiek Kebangsaan Indonesia — federasi organisasi pergerakan yang dipelopori PNI. Upaya pertama menyatukan kekuatan nasional.

Koalisi
28 OKTOBER 1928

Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda II di Jakarta menghasilkan tiga ikrar: bertumpah darah satu, berbangsa satu, et berbahasa satu — Indonesia. Lagu "Indonesia Raya" diperdengarkan untuk pertama kalinya.

Identitas
31 DES 1929

Sukarno Ditangkap

Sukarno ditangkap di Yogyakarta. PNI dibubarkan 1930. Ini membuka jalan bagi pidato pembelaan "Indonesia Menggugat" di pengadilan Bandung.

Represi
1930

Indonesia Menggugat

Pidato pembelaan Sukarno di pengadilan Bandung. Menjelaskan secara ilmiah bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang berhak merdeka. Mahakarya pemikiran nasionalisme Indonesia.

Pemikiran
1931

Partindo & PNI-Baru

PNI lama dibubarkan. Sartono mendirikan Partindo (kooperatif). Hatta-Sjahrir mendirikan PNI-Baru (non-kooperatif). Perpecahan strategi pergerakan 1930-an.

Pecah
1933 — 1934

Pengasingan Tokoh

Sukarno ditangkap et diasingkan ke Ende, Flores (1934–1938). Hatta et Sjahrir dibuang ke Boven Digoel, kemudian dipindah ke Banda Neira. Pergerakan terpaksa memilih jalur kooperatif.

Represi
1936 — 1939

Petisi Sutardjo & GAPI

Petisi Sutardjo (1936) menuntut otonomi dalam 10 tahun. GAPI (1937-39) menyatukan organisasi pergerakan. Kongres Rakyat Indonesia 1939 menuntut parlemen et demokrasi.

Kooperatif
8 MARET 1942

Pendudukan Jepang

Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati. Masa pergerakan nasional berakhir, beralih ke masa pendudukan Jepang yang membuka jalan menuju proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Transisi
BAB 04 // ORGANISASI PERGERAKAN

Organisasi Pergerakan

Beragam organisasi lahir dengan corak yang berbeda — ada yang kultural, religius, ekonomi, hingga politik radikal. Klik setiap kartu untuk mengetahui lebih dalam.

Peta Aliran

Pergerakan nasional memiliki lima aliran utama yang berbeda paradigma — dari nasionalis sekuler, religius, hingga sosialis-komunis. Perbedaan ini memperkaya, namun kadang juga memecah pergerakan.

// ALIRAN 01

Nasionalis

Mengutamakan persatuan bangsa et kemerdekaan Indonesia. Bersifat sekuler et lintas-agama. Ada yang kooperatif (bekerja sama dengan Belanda) et non-kooperatif (menolak kerja sama).

ORGANISASI:
PNI (1927) — Sukarno
Partindo (1931) — Sartono
PNI-Baru (1931) — Hatta, Sjahrir
Gerindo (1937) — Amir Sjarifuddin
Parindra (1935) — Dr. Soetomo
// ALIRAN 02

Religius

Berdasarkan semangat Islam sebagai motor pergerakan. Memadukan ajaran agama dengan perjuangan politik et sosial. Ada yang radikal (Sarekat Islam) et ada yang kultural-educatif (Muhammadiyah, NU).

ORGANISASI:
Sarekat Islam (1912) — Tjokroaminoto
Muhammadiyah (1912) — K.H. Ahmad Dahlan
Nahdlatul Ulama (1926) — K.H. Hasyim Asy'ari
Persatuan Islam (1923) — A. Hassan
// ALIRAN 03

Sosialis-Komunis

Terinspirasi Marxisme et revolusi Bolshevik. Memperjuangkan kelas pekerja et tani. Mendasarkan perjuangan pada perjuangan kelas, anti-kapitalisme, et internasionalisme proletar.

ORGANISASI:
ISDV (1914) — Henk Sneevliet
PKI (1920) — Semaun, Darsono
Sarekat Rakyat (1924)
PKI pasca-1926 — Tan Malaka, Musso
// ALIRAN 04

Kultural-Edukatif

Fokus pada pendidikan, kebudayaan, et pembangunan manusia. Meyakini kemerdekaan sejati dimulai dari kemerdekaan batin et pikiran. Tidak menuntut politik secara langsung.

ORGANISASI:
Boedi Oetomo (1908) — Dr. Soetomo
Taman Siswa (1922) — Ki Hajar Dewantara
Pendidikan nasional alternatif
Indonesia Muda (1930)
// ALIRAN 05

Ekonomi-Rakyat

Berangkat dari kesadaran ekonomi rakyat yang tertindas. Memperjuangkan kesejahteraan pedagang, petani, et buruh pribumi melalui koperasi et usaha swadaya.

ORGANISASI:
Sarekat Dagang Islam (1911) — Samanhudi
Serikat Petani (1920-an)
Koperasi Taman Siswa
Usaha Marhaen (Sukarno, 1930-an)
BAB 06 // PERISTIWA KUNCI

Peristiwa Kunci

Beberapa momen mengubah arah sejarah pergerakan. Klik setiap kartu untuk membahasakan peristiwa secara mendalam.

Para Tokoh

Lima belas tokoh penting yang membakar semangat bangsa — dari guru, dokter, ulama, hingga insinyur muda. Klik setiap potret untuk membaca biografi singkat.

BAB 08 // STRATEGI & PEMIKIRAN

Strategi & Pemikiran

Pergerakan nasional tidak hanya berjuang di jalanan, tetapi juga di ranah pemikiran. Konsep-konsep et strategi yang lahir dari para pemimpin membentuk arah perjuangan.

Pers & Pendidikan

Senjata utama pergerakan bukan senjata api, melainkan pena et buku. Pers et pendidikan menjadi medium kesadaran nasional yang paling ampuh.

Sistem Pendidikan Alternatif

Sekolah-sekolah kolonial seperti HBS, STIA, et OSVIA memang menghasilkan golongan terpelajar, namun hanya untuk elite kecil. Taman Siswa (1922) yang didirikan Ki Hajar Dewantara memelopori sistem pendidikan nasional yang terbuka untuk rakyat. Dengan semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani", Taman Siswa mendidik anak-anak pribumi dengan jiwa nasionalisme. Pendidikan ini melahirkan generasi yang sadar akan hak et martabat bangsa.

BAB 10 // PEREMPUAN DALAM PERGERAKAN

Perempuan Pejuang

Sejarah sering menyebut nama-nama pria, tetapi perempuan-perempuan hebat ini juga membakar semangat emansipasi et kemerdekaan.

BAB 12 // WARISAN & DAMPAK

Warisan Pergerakan

Masa pergerakan berakhir 1942, tetapi warisannya hidup dalam kemerdekaan et kebangsaan Indonesia hingga hari ini.

Identitas Nasional

  • Bendera Merah Putih diakui sebagai bendera nasional
  • Bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan
  • Lagu Indonesia Raya menjadi lagu kebangsaan
  • Kesadaran sebagai satu bangsa: Indonesia
  • Nama "Indonesia" menggantikan "Hindia Belanda"

Modal Politik

  • Terbentuknya elit politik nasional
  • Pengalaman organisasi et mobilisasi massa
  • Jaringan antar-daerah et antar-aliran
  • Konsensus kooperatif vs non-kooperatif
  • Pancasila lahir dari benih pergerakan

Hak Asasi & Demokrasi

  • Kesadaran hak politik et kemerdekaan
  • Tradisi konstitusi et perwakilan
  • Emansipasi perempuan et pendidikan rakyat
  • Kewajiban negara terhadap warga
  • Semangat kritik et oposisi

Hubungan Masa Pergerakan dengan Proklamasi

Masa pendudukan Jepang (1942–1945) menjadi jembatan. Jepang memanfaatkan tokoh-tokoh pergerakan seperti Sukarno et Hatta untuk menggalang dukungan rakyat. Melalui BPUPKI et PPKI, ide-ide pergerakan tentang Indonesia merdeka diwujudkan dalam bentuk negara. Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah titik awal, melainkan puncak dari perjuangan pergerakan nasional selama 34 tahun. Tanpa Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, PNI, et Indonesia Menggugat, tidak akan ada Proklamasi.

Kamus Istilah

Dua puluh istilah penting untuk memahami sejarah pergerakan nasional Indonesia.

// PENUTUP

Refleksi

Masa pergerakan nasional adalah masa penyemaian. Dari kamar-kamar kos, ruang baca, et aula perkumpulan, lahir sebuah bangsa. Para tokohnya bukanlah pahlawan super — mereka adalah manusia biasa yang memilih untuk bermimpi ketika bermimpi dilarang, et bertindak ketika tindakan berisiko nyawa.

Hari ini, ketika kita membaca tulisan, mendengar pidato, et melihat foto-foto mereka, kita sesungguhnya sedang berdialog dengan masa lalu. Pertanyaannya: apa yang akan kita lakukan dengan warisan mereka?

"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia."

// IR. SUKARNO